Urban Graffiti

antara vandalisme dan kebutuhan psikologis untuk meninggalkan jejak

Urban Graffiti
I

Pagi hari, saat terjebak macet di jalanan kota yang padat, tatapan kita mungkin sering tertuju pada sebuah tembok beton abu-abu di bawah jalan layang. Di sana, tiba-tiba ada coretan cat semprot berwarna neon. Hurufnya berantakan, meliuk-liuk, dan jujur saja, sering kali tidak bisa dibaca sama sekali. Ketika melihatnya, kita mungkin bergumam sambil mengernyitkan dahi, "Kurang kerjaan sekali sih." Tapi, mari kita tahan sebentar rasa kesal itu dan berpikir lebih dalam. Kenapa ada orang yang rela menyisihkan uang untuk beli cat, keluar sembunyi-sembunyi di tengah malam yang dingin, dan mengambil risiko berhadapan dengan hukum, hanya demi menuliskan nama samaran yang bahkan tidak dipedulikan oleh siapa pun yang lewat?

II

Kita sering mengira bahwa urban graffiti atau coretan jalanan ini murni produk dari modernisasi. Sebuah bentuk kenakalan remaja era aspal dan beton yang kelebihan energi. Tapi, coba kita mundur sedikit ke ribuan tahun yang lalu. Jika kita berkunjung ke gua-gua purba seperti Lascaux di Prancis atau Leang-Leang di Sulawesi, kita akan melihat leluhur kita menempelkan telapak tangan mereka di dinding dan menyemburkan pigmen merah di sekitarnya. Melompat ke era Kekaisaran Romawi, di reruntuhan kota Pompeii, para arkeolog menemukan ribuan coretan di tembok pasar yang berisi ejekan, deklarasi cinta, curhatan patah hati, hingga ulasan buruk tentang sebuah kedai minum. Polanya secara mengejutkan selalu sama dari zaman ke zaman. Artinya, hasrat untuk mencoret dinding ini bukanlah tren sesaat, melainkan sebuah dorongan kuno yang tertanam dalam diri manusia.

III

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala para pembuat coretan ini? Kota metropolitan modern adalah mesin raksasa yang bergerak terlalu cepat dan sangat dingin. Di tengah lautan gedung pencakar langit, klakson kendaraan, dan jutaan wajah asing, manusia sangat mudah merasa kerdil dan tak terlihat. Di mata kota, kita sering kali hanyalah angka di dalam data statistik kependudukan. Nah, di titik isolasi inilah psikologi dan neurobiologi mulai bermain. Ada sebuah naluri purba yang berteriak di dalam DNA kita saat kita merasa kehilangan kendali atas lingkungan tempat kita tinggal. Pertanyaan besarnya, apakah memegang kaleng semprot dan mencoret fasilitas publik murni sebuah tindakan kriminal, atau jangan-jangan ini adalah semacam mekanisme pertahanan psikologis dari sebuah otak yang sedang kelaparan?

IV

Mari kita bedah fakta sains di baliknya. Dalam ilmu psikologi evolusioner dan neurobiologi, ada konsep yang bernama territorial marking (penandaan wilayah) dan existential validation (validasi eksistensi). Saat seseorang menggoreskan namanya di tembok kota, otak mereka melepaskan hormon dopamine dalam jumlah yang sangat besar. Sensasi ini bukan sekadar luapan adrenaline murah karena melanggar aturan. Ini adalah reward system atau sistem penghargaan otak yang menyala terang karena individu tersebut merasa baru saja menaklukkan dan mengubah lingkungan fisiknya. Di tengah kota yang perlahan menghapus identitas mereka, coretan itu adalah deklarasi neurobiologis yang paling dasar dan paling keras: "Saya ada, saya pernah hidup di sini, dan dunia tidak bisa mengabaikan saya." Ketika sebuah kota dirancang secara kaku tanpa mempertimbangkan ruang untuk ekspresi jiwa warganya, maka dinding-dinding kosong itu akan otomatis berubah menjadi kanvas pemberontakan bagi otak manusia yang merasa terasingkan.

V

Tentu saja, memahami sains di balik sebuah fenomena bukan berarti kita otomatis membenarkan perusakan properti orang lain. Vandalisme yang merusak fasilitas publik tetaplah sebuah tindakan yang merugikan kita semua. Namun, dengan melihat graffiti melalui lensa sains dan empati, kita bisa berhenti sekadar marah dan mulai berpikir secara kritis. Mungkin masalah sejatinya bukan hanya terletak pada sekelompok anak muda yang membawa cat semprot di dalam tas ransel mereka. Mungkin, ini adalah alarm visual yang menunjukkan bagaimana tata kota kita kadang gagal menyediakan ruang bagi kehangatan dan validasi kemanusiaan. Pada akhirnya, teman-teman, entah itu melalui cap tangan berdebu di dinding gua purba jutaan tahun lalu, atau semprotan piloks terang di kolong jalan tol yang bising, kita semua berbagi satu ketakutan psikologis yang sama. Kita hanya tidak ingin dilupakan oleh dunia.